News |    
Tes Wawancara Seleksi Kompetensi Bidang ( SKB ) Cpns Kejaksaan RI Tahun 2021 Di Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara | Rapat Evaluasi Bidang Datun Se- Sumatera Utara | Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Operasi Lilin Toba 2021 Di Wilayah Provinsi Sumatera Utara | Launching Computer Security Incident Response Team ( CSIRT ) Kejaksaan RI | Pelaksanaan Tes Kesehatan Seleksi CPNS Kejaksaan RI Tahun 2021 di Wilayah Sumatera Utara bertempat di RSUD Dr Pringadi Medan. Selasa, 30 November 202 | Kajati Sumut menghadiri Kegiatan Syukuran atas pemanfaatan Gedung eks STIKES Haji untuk operasional RSU Haji Medan PROVSU | 

Tiga Terdakwa Jual Beli Vaksin Sinovac Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara

*Tiga Terdakwa Jual Beli Vaksin Sinovac Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara*

Jaksa Penuntut Umum Kejati Sumut Membacakan dakwaan terkait kasus penjualan vaksin Sinovac secara ilegal melibatkan dua orang oknum dokter berstatus aparatur sipil negara (ASN) dan seorang pihak swasta di Pengadilan Negeri Medan.

Ketiga terdakwa yakni dr. KS yang merupakan dokter berstatus ASN di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara; dr.IW berstatus dokter ASN di Rutan Tanjung Gusta dan Sl, pihak swasta.

Dalam persidangan yang digelar secara virtual di Cakra II Pengadilan Negeri Medan, Rabu, (8/9/2021). Jaksa Penuntut Umum Robertson Pakpahan menguraikan bahwa terdakwa dr KS dan dr IW didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau kedua Pasal Pasal 12 huruf b, kemudian pasal ketiga Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana.

Sedangkan terdakwa Sl, selaku koordinator bertugas mengkoordinir masyarakat yang akan divaksin didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a dan atau b dan atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasca persidangan, Robertson Pakpahan memaparkan kasus ini bermula saat terdakwa Sl menghubungi KS meminta agar rekan-rekannya divaksin.

"Pada awalnya terdakwa KS menolak, kemudian karena disepakati ada pemberian uang sebesar Rp250 ribu per sekali vaksin untuk tiap orangnya, maka KS bersedia melakukan suntik vaksinasi jenis Sinovac,"

Karena stok vaksin yang dimiliki terdakwa KS di Dinas Kesehatan tidak cukup, KS menyarankan agar Sl menghubungi dr IW yang bertugas sebagai dokter di Rutan Tanjung Gusta.

"Dan dari sana disepakati tetap 250 ribu sekali vaksin. Ketiga terdakwa terancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.


  Berita Terbaru